Saturday, 2 November 2019

Perdebatan Organ dan Kursi Hijau

Hasil gambar untuk jantung tiga dimensi 
Hello, sudah beberapa bulan ini aku tidak bisa menyentuh waktuku untuk kembali mengupload ke blog ku yang sudah lebih mirip dengan bioskop atoom, yang sudah tidak tersentuh sejak 90an dan baru diingat kembali setelah film horror Perempuan Tanah Jahanam melakukan bentuk promosinya.

Sebenernya sudah 2 bulan yang lalu artikel dari pemikiran ini dibuat, tapi baru kali ini kuingat untuk kubagikan dengan para pembaca Ghost reader ku yang tidak pernah setia, jadi apalagi yang ditunggu, silahkan menyerapnya dari panca indera kalian…

Hari ini hari sabtu. Masih baru saja berganti hari, baru lewat 17 menit. Bulan dan matahari belum berganti tugas, namun selalu saling menunggu dengan setia. Bagiku ini adalah suatu bentuk keromantisan semesta. Sudah ada sangat lama. Siapa itu Romeo dan Juliet ?! Bulan dan Matahari adalah kisah teromantis. Sepertinya dari sini Tuhan ingin menunjukan betapa romantis DiriNya. Ya Tuhan, Aku percaya !

Tengah malam ini, seperti biasa. Pria dengan segudang pemikirannya kembali termenung. Aku sudah mencoba tidur sejak pukul jamuan minum teh Britania, Jam 9 !. Bisa kau bayangkan sudah berapa kali aku memutar badan dan membetulkan bantal dan guling agar harmonis !?

Jika saja ada yang mengamatiku, dan menghitung gerak-gerik tak beraturan ku diatas kasur. Sudah pasti dia tidak mempunyai pekerjaan sama sekali. Maksutku, buat apa dia mengamati, dan menghitung gerak-gerik tak beraturan ku diatas kasur ? dia sudahlah pasti kayu mati !

Kegusaranku seperti membentuk rasi bintang yang menunjukan ke arah yang kusebut “bingung”. Setelah aku pun bersepakat untuk tidak memaksakan tidur, seakan mataku seperti setuju. Namun seperti biasanya, otak pun tidak setuju dengan mataku. Bukankan ini pertentangan persetujuan yang klimaks ? aku saja bingung siapa organ yang harus aku dukung.

Setelah perdebatan yang cukup organisme dalam tubuhku, akhirnya aku membawa tubuhku ke teras rumah, dan mencari kursi yang tepat untuk menjadi tempat ku bersandar sejenak di tengah malam itu. Kursi hijau, dengan single seat, itulah yang beruntung sekaligus sial untuk menambah tanggunganya. Ya, aku duduk dan berusaha mendamaikan kedua organ ini untuk kembali bekerja sama seperti sediakala. Aku pikir mereka sudah bersahabat sangat lama, 23 tahun. Sangat sayang sekali jika hanya karena perdebatan tidur dan tidak mereka jadi beda aliran. Aliran darah maksutku, tidak salah kan ?

Ya, aku coba ajak mereka berbicara dalam hati. Kursi hijau yang ku duduki seolah ingin ikut tau apa yang dibicarakan. Karena tampak luar, yang terlihat hanya seorang pria yang duduk terdiam, namun jika dirasakan ada perdebatan paripurna dahsyat didalamnya. Sesekali aku hanya menyeka keringat dikeningku, dan mengusap mata ku. Terima kasih, tangan ku adalah pendamai yang baik dan tidak berpihak. Walaupun terkadang tangan ini yang sangat sering jadi eksekutor dalam dosa. Tidak, tidak, aku tidak menyalahkan tangan ku. Cukuplah mata dan otak ini yang berjibaku, jangan ditambahkan !
Kursi hijau hanya berharap, dia akan mendapat kesimpulan dari perdebatan  internal antara organku ini. Karena dia juga ambil bagian dalam penyedia lahan. Aku tidak akan lupa dengan jasanya. Biarlah aku yang berterima kasih. Aku juga merasakan seperti ada titik temu antara mata dan otakku. Sang otak memutar memori kenangan yang mata telah lihat. Mereka kembali mengenang kedamaian itu, dan merindukannya.

Aku sudah mulai merasakan keningku berhenti berpeluh, dan mata berhenti menguap. Pikirku ini pertanda baik. Semuanya perlahan membaik dan  jadi lebih baik. Sang kursi hijau pun sepertinya puas, walaupun tidak mendengar pernyataan perdamaian, tapi ia bisa merasakannya. Jika saja ia punya wajah, pasti tersenyum lebar.

Setelah aku merasa semuanya baik seperti sedia kala, bahkan menjadi lebih baik. Aku pun berdiri  kembali masuk kedalam rumah, tak lupa aku menunduk pada kursi  hijau sebagai bentuk penghormatanku. Terima kasih sudah sudi menyediakan ku tempat untuk berdamai. Ya, akhirnya semua bahagia dan kembali damai. Aku hanya ingin kembali tidur dan beristirahat, agar kelak tenagaku pulih kembali.

Tertanda aku dengan pemikiran tiga bulan yang lalu. 
as usual, don't forget to breath and blink...
stay alive lads. :)
 

Saturday, 9 February 2019

MILENIAL RESAH

Selamat menghitung hari wahai para pembaca tidak setia yang gue berikan predikat sebagai Ghost reader. Gue adalah seorang laki-laki berumur 22 tahun yang memiliki banyak keresahan. Beberapa orang bilang gue terlalu pemikir, beberapa lagi bilang gue orangnya suka ambil pusing banyak hal, dan beberapa lainnnya bilang kalo gue terlalu pemikir sampe pusing. Ya, gue tidak menyalahkan apa yang mereka bilang, dan gue selalu terima apapun pendapat orang, walaupun lebih menyenangkan kalau memiliki perasaan yang diterima oleh orang yang kita sayang.
 
  
Iya, gue adalah orang yang suka sekali resah dan banyak hal yang membuat gue tidak nyaman. Salah satu yang membuat gue resah adalah orang-orang dalam generasi gue, generasi milenial. Gue tau, gue hidup dalam generasi milenial, orang bilang generasi milenial adalah generasi yang mau praktis dan tidak suka ambil pusing, dan gue setuju atas hal itu karena benar, tapi tidak sepenuhnya tepat. Karena, kami generasi milenial bukan hanya mau praktis dan tidak ambil pusing, tapi kita juga narsistik dan butuh pengakuan.

Kenapa gue bisa bilang begitu ? karena gue melihat bagaimana keadaan dan situasi yang biasa dilihat dari sosial media dan lingkungan pergaulan gue. Gue bukanlah anak muda idealis tinggi yang suka pake kaos-kaos artistic gombrang yang selalu menggunakan ornamen magis alam dengan simbol tali-tali sebagai hiasan di tas sembari menyuarakan cintailah alam, berdamailah dengan masalah, tapi masih bikin masalah dengan tidak mencintai alam, karena masih membuang sampah sembarangan. Maaf, bagi gue idealis itu bukan identitas gaya, tapi pola pikir dan karakter.

Beberapa lainnya ada pula milenial yang mengaku penggiat politik, bilang harus menjunjung tinggi keadilan dan musyawarah sambil berteriak-teriak di kampus kecintaannya dengan megaphone, sembari tidak lupa mengepalkan tangan kiri keatas seolah aspirasinya sudah menggenggam semua perwakilan suara dari orang-orang sekitarnya. Namun, ketika dia sudah mendapatkan posisi yang dia inginkan tangannya sudah tidak mengepalkan keatas, tapi sibuk merogoh kebawah mencari uang dan kekuasaan yang bisa dia kepal kuat. Dimana teriakan keadilan yang sebelumnya disuarakan sampai ingin mengalahkan sengatan panas matahari ? apa sudah mati ?

Sibuk untuk berlomba menunjukan eksklusifitas taraf hidupnya. Membuat golongan sendiri seolah mencari dan ingin berkumpul dengan yang sejalan maunya dia. Namun bukan pemikiran yang dicari, tapi hanya keinginan dari seorang yang menjunjung tinggi ke-akuan. Menetapkan standarnya sendiri untuk menjadi syarat masuk dalam lingkungannya. Berlomba-lomba jadi pionir tentang golongan yang paling beda, golongan paling pintar, tapi nyatanya hanya bersembunyi dalam kelompok karena takut untuk menjadi yang paling beda. Jadi, siapa yang lemah ?

Punya sosial media, sebagai alat untuk menunjukan eksistensi dan mencari pengakuan dari banyak orang, hanya karena tidak percaya diri atas kemauan dan tujuan yang ingin didapatkan dan dicapai. Kenapa harus membandingkan feed lu, dengan teman lu yang lu anggap lebih keren dan hebat. Resah ketika likes di instagram tidak mencapai target minimal. Terperangkan hidup dalam menipu diri sendiri dan menghakimi diri sendiri. Apakah tidak lelah ?

Mencoba jadi yang mengikuti arus, tanpa sadar ternyata keinginan sebenarnya terus menerus digerus. Sampai, pada titik bingung, hampa, dan mencari hal instan untuk sekedar mengobati hal-hal rawan dalam kehidupan yang memiliki potensi luka kembali, dan malah menjadi semakin rentan.

Apa yang salah ? apa selalu ingin hidup dalam mimpi-mimpi semu ? berusaha selalu menipu diri lu, kalau lu adalah bagian dari kehidupan palsu yang menciptakan kebohongan yang candu ?
Gue bener-bener resah. Kenapa harus selalu merasa jadi yang paling depan, kalau memang masih terbelakang ?

Mulailah dengan mengisi intuisi, perkuat visi, ciptakan misi yang bukan hanya lewat kisi-kisi, tapi terus ciptakan inovasi. Bukan untuk menghakimi, tapi hanya ingin berbagi kalau lu memang resah, lu tidak sendiri.

Friday, 1 February 2019

Terima Kasih Padamu, Kecewa

Hari itu, 6 Januari 2019, hari ke 6 ditahun baru setelah berperang dan berlelah serta berbahagia di tahun 2018… orang bilang tahun baru artinya semangat baru, rutinitas baru, hidup baru. Tidak ada yang salah dari semua keingan itu, akan tetapi diumur gue yang sudah 22 tahun, gue sudah tidak merencanakan atau mempautkan tahun baru sebagai hidup baru. Stigma yang sedang dan masih gue perdalam dan  gue pelajari, untuk merubahnya agar menjadi, HIDUP LEBIH BAIK SETIAP HARI.

Gue mencoba mengawali pagi ini dengan bangun pagi dan berolah raga. Walaupun, sebenarnya ini bukanlah kesengajaan gue. Karena dimalam sebelumnya gue habis makan ayam geprek yang pedes, itu makanan lebih mirip obat pencuci perut dibanding jadi makanan.

Selalu ada masanya kita tidak puas dengan apa yang telah kita capai dan kita miliki. Hal itulah terkadang yang membuat kita mencari alasan untuk melakukan hal-hal yang bersifat untuk melarikan diri atau sekedar melupakan hal yang membuat kita tidak puas itu. Karena pada akhirnya ketidak puasan hanya akan bermuara pada lembah gelap tak berujung, yang dinamakan dengan kekecewaan.

Gue yang sudah berumur 22 ini merasa kecewa atas hal yang belum bisa gue capai. Hal itu bisa benar-benar membuat gue menjadi cemas dan lupa atas segala hal yang gue capai. Periode ini selalu menjadi periode paling  gue tidak suka, dan seakan-akan menghancurkan segala rencana yang gue buat untuk langkah kedepannya. Gue pernah mencari penyebab hal yang bisa membuat gue sangat cemas ini, dan ternyata ada istilah yang semakin gue pahami belakangan ini, yaitu “overthinking”.

Mereka yang sudah, belum, dan sedang merasakannya. Tenang, gue cukup mengerti, mungkin tidak banyak, namun satu hal yang kalian tau, gue pernah merasakannya. Setidaknya walaupun penyebabnya berbeda, kita pernah berdiri di tempat dan berada pada ruang yang sama, ruang kekecewaan. Gue pernah baca pada salah satu buku terbaik dan terindah, salah satu kutipannya yang gue ingat ketika mengalami kekecawaan adalah, ”Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Sebelumnya gue tau tentang betapa baiknya kata-kata itu, tetapi akhirnya gue baru paham apa makna lebih dalam dari kutipan itu. Memang benar, jika belum merasakan dan mengalaminya kita tidak pernah lebih paham atas suatu hal. Kemudian setelah gue memetakan kekecawaan gue, dan mengingat beberapa hal yang berhubungan dengan segi lain kehidupan gue, timbulah suatu perasaan dan pemikiran yang terucap dalam hati… “terima kasih”. Entah kenapa semakin gue mengucapkan kata itu dalam hati gue, gue merasakan sensasi yang berbeda. Sensasi kehangatan ditengah rasa dingin yang menyerang saat kekecewaan itu datang.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Semakin gue mengingat hal baik yang gue dapat ditengah kekecewaan gue, semakin terulang kata itu dalam hati gue. Perasaan itu, sensasi kehangatan itu seolah semakin mengalahkan dinginnya perasaan kecewa. kehangatan itu datang seolah bersama-sama pasukan cahaya yang seolah menarik gue dari lembah gelap tak berujung. Mereka membantu gue, membantu untuk kembali memulai.

Gue sudah cukup berkabung dalam kekecewaan, sudah saatnya gue kembali menapakan langkah gue. Jalan akan selalu ada untuk mereka yang mau bertarung mengalahkan kekecewaan. Tenang, semua ada waktuNya dan bagiannya. Namun, jikalau kembali ke lembah gelap itu, cahaya itu tetap ada di dalam hati kita, jika kita ingin menyalakannya kembali cukup dengan luapan kata “terima kasih”. Semakin banyak alasan baik untuk mengucapkan kata ini dalam hati, semakin terang cahaya itu berpendar. Satu hal penting yang harus dimulai adalah dengan berterimakasih kepada diri sendiri karena sudah mau ikut proses itu. Jangan lupa, untuk berterima kasih pada dirimu, itu baik !

Terima kasih, terima kasih, terima….kasih, Terima kasih, kasih.

Sunday, 9 September 2018

Pergaulan SPANDEX

Malam itu, sama seperti malam-malam biasanya. Gelap. Iya gelap, segelap malam-malam biasanya. Oke skip.

Gue semakin merasa lingkungan pertemanan gue semakin sempit, ketat, dan sempit, dan ketat, dan sempit. Sesempit dan seketat kostum Spiderman berbahan spandex. Ngomong-ngomong soal Spiderman gue merasa dia adalah superhero yang digigit serangga paling keren pada kelasnya. Bayangin aja, kalo ada superhero serangga digigit sama capung dan punya kekuatan super. Kalo laba-laba kan keren tuh kayak spiderman, dia punya kemampuan laba-laba nembakin jaring buat menumpas kejahatan dan nangkepin penjahat, lah kalo digigit capung kemampuannya apa nanti ? gigitin puser penjahat biar pada ngga ngompol !!!??. Kalo digigit capung lebih kaya superhero penumpas pengompolan bukan kejahatan. Oke sekian, imajinasi liar gue.


  
Tadi gue lagi bahas soal lingkungan pergaulan gue yang gue rasa jadi semakin sempit, dan sudah tidak terlalu tertarik untuk mencari banyak teman-teman. Tapi bukan berarti gue membatasi pergaulan gue. Gue tetap memperluas kenalan-kenalan gue, dari kingdom mamalia, kingdom animalia, sampai kingdom plantae (tanaman) sekalipun. Gue berkenalan dengan segala golongan makhluk hidup yang Tuhan ciptakan. Tapi untuk menjadi teman, kayaknya gue udah ngga terlalu tertarik lagi. Ya, kecuali dia rela buat kontrak 100 juta perhari untuk jadi temen gue, gue setuju aja. Kuy daftar.

Gue bukanlah tipe orang yang percaya dengan konsep sahabat, atau padanan kata terdekatnya. Gue hanya percaya semua ada masanya, namun ada hal yang kekal, yaitu ketika gue sudah memberikan kepercayaan gue ke orang tertentu. Jadi, dibandingkan orang-orang menyebutnya dengan sahabat, gue lebih memilih untuk memberikan predikat “orang yang gue percaya”. Gue juga cukup memiliki kecemasan dalam susah untuk mempercayai seseorang. Harus melewati beberapa bagian dulu yang gue rasa bisa cukup untuk dapat gue percaya. Contohnya aja, gue ngga pernah percaya dengan pohon cerry deket rumah gue untuk jadi makhluk hidup yang gue percaya. Dia setiap gue ajak ngobrol ngga pernah respon, bahkan ketika gue mengajak bertukar rahasia, dia cuman diem aja kaya pohon. Jangan pernah mempercayakan rahasia lo sama pohon cerry ! mereka ngga asik.

Dari gue SD, SMP, SMA, MAHABRATA..eh MAHASISWA. Gue selalu memiliki daftar orang-orang yang gue percaya, dan lucunya jumlahnya selalu kurang dari 5. Mungkin kepercayaan gue terhadap seseorang juga menganut konsep 4 sehat 5 sempurna. Tapi bedanya ngga ada, tempe, sayur-mayur, dan susu dalam daftar kepercayaan gue, apalagi sama pohon cerry, SANGA TIDAK SEKALI.
Kecemasan dalam mempercayai seseorang, atau mencari teman sebanyak-banyaknya ternyata berbanding terbalik dengan bertambahnya umur. Semakin bertambah umur, maka akan semakin berkurang lingkungan pertemanan lo, dan ruang lingkup kepercayaan lo terhadap orang-orang didalamnya. Tapi, lucunya ada juga hal yang signifikan dalam perbandingan terbalik itu. Perkenalan lo akan semakin luas, sangat luas bisa dibilang. Lo bisa kenal semua umur, dan golongan tanpa ada batas tertentu, namun lo akan semakin cenderung memilih, mana yang masuk lingkup pertemanan lo dan mana yang hanya sebatas kenal.

Jadi, untuk kalian diluar sana yang sedang merasakan kecemasan yang sama atau bahkan ngga jauh beda sama gue, itu adalah hal yang wajar. Karena dewasa memang tidak sebercanda remaja, dan tidak setegang listrik (?). Tapi seseru bacain orang berantem dikolom komentar instagram. Jadi, mempersempit perteman, bukan berarti membatasi kenalan, itu pilihan kok. Selamat menikmati pendewasan pergaulan kalian, makhluk hidup yang membaca artikel ini.

Yhap, that’s all for now my ghost reader.
Don’t forget to breath and blink.

Tuesday, 21 August 2018

Kesepakatan dengan Waktu

Sudah lama sekali posting sampah tidak gue lakukan. Terakhir gue posting belum ada sinetron anak jalanan, dan acara televisi masih didominasi serial-serial India. Bulu kaki mang Ujo tokoh fiksi yang baru aja gue buat juga sudah semakin rindang. Terkadang satuan waktu itu bisa diukur dari proses yang telah kita lewati, atau bahkan dari situasi dan kondisi yang telah berubah. Sekarang semakin paham, makna dari teori relativitas Albert likumahuwa…maksud gue Albert Einstein.

Yoo, sup all of my ghost reader !!?
Pemimpin kalian telah kembali, setelah dia kehilangan jati diri kepenulisannya. Jiwa gue hampir hilang direnggut sama kebiasaan konsumtif kuota untuk menonton video. Sungguh patrick sekali pemimpin kalian ini. (Patrick : temen Spongebob yang ngga punya otak, kasarnya dia Bego, maaf aku kasar, janji ngga lagi ngomong bego, eh maaf janji gamongong kasar, gabakal ngomong beg…. ).

Yea, mengumpulkan jiwa kepenulisan itu cukup sulit, walaupun hal yang gue bagi kebanyakan lebih buruk dari sampah. Sekarang ini gue lagi mau membagikan imajinasi liar gue mengenai suatu satuan yang manusia gunakan untuk mengukur keakuratan suatu hal atau rentang yang dipakai untuk mengetahui ketepatan dan keseragaman suatu situasi atau kondisi, atau simpelnya disebut “waktu”.

 
( Credit : DepositPhotos )

Gue sekarang adalah mahasiswa tingkat akhir disalah satu Perguruan Tinggi Negeri yang bukan favorit. Tapi belakangan kampus tempat gue tuker tambah uang dengan ilmu ini lagi naik delman, eh…daun maksud gue. Kalau gue inget 2 tahun lalu ketika gue mengatakan kampus gue di UNTIRTA orang pasti akan bertanya, “itu kampus negeri bukan ?”. Tapi sekarang sudah 62% orang tau kampus gue dimana ketika gue menjawab “kampus gue di UNTIRTA”. Persentase ini gue ambil berdasarkan basa-basi Ojek Online yang gue gunakan jasanya selama 2 tahun terakhir. Jadi, untuk kalian yang ingin mengetahui tingkat popularitas kampus kalian, tanyakanlah pada Ojek Online terdekat kesayanganmu.

Setelah gue mulai dunia perkuliahan gue di tahun 2014 dengan cukuran kepala botak pertama sejak bayi, akhirnya…gue belum lulus juga, dan sekarang menginjak semester 9. Bukan karena gue ngga mau lulus cepet, tapi emang dasarnya gue cukup patrick untuk lulus cepat, dan gue suka dengan angka 9. Gue pikir alasan gue cukup kuat ! tapi tahukah kawan ? skripsi itu mencacingkan ! maksut gue menyenangkan, asyik, cihuy !

Gue sedang sayang-sayangnya dengan skripsi gue. Setiap tidur gue selalu memikirkan dia, dan membawanya kedalam mimpi, ngga jarang gue deg-deggan kalo dikedipin sama skripsi. Saking sayangnya gue sama skripsi, gue membiarkan  dia beristirahat. SKRIPSI juga butuh liburan, bung !

Gue dalam pengerjaan pengolahan data penelitian yang sangat seru itu. Angkanya membuat gue berimajinasi gue adalah Alan Turing yang sedang dalam perang dunia untuk memecahkan Enigma kode sandi tentara Nazi tentang armada perang balistik yang melakukan penyerangan sesuai kordinat yang setiap harinya berubah-ubah, Immitation Game. Tapi sayangnya gue bukan si Mr. Alan, jadi setiap masuk ke dunia angka, gue berakhir dengan imajinasi gue dan begitu sadar, gue dalam kondisi terbangun dari tidur. PATRICK !

Gue menghabiskan 2 semester untuk merampungkan penelitian dan skripsi gue ini. Membuat gue berpikir untuk test PTN ulang. Semakin gue dewasa gue semakin paham kenapa orang tua itu mengatakan “waktu itu terlalu cepat jika hanya untuk bersenang-senang dan terlalu lambat jika kita menyadari waktu telah berjalan cepat”. Orang tua yang berkata seperti itu adalah Mang Ujo si tokoh fiksi karangan gue yang berambut belah pinggir dengan cukuran undercut.

Imajinasi gue mengenai waktu seolah terus berontak berdasarkan waktu yang telah gue lewati, dan membuat gue semakin mencari arti, kenapa ada satuan yang mengukur segala kegiatan untuk menilai cepat atau lambat. Ternyata hal ini membuat gue semakin paham, bahwa satuan itu kitalah yang membuatnya sendiri berdasarkan kesepakatan kita dengan hal yang kita lakukan. Dengan kata lain, ketepatan itu, bisa dimuat oleh kesepakan dirimu sendiri dengan waktu yang kamu lewati, dan menafsirkannya kedalam kategori “cepat”, “tepat”, atau “terlambat”.

Ada satu hal lagi yang lebih menarik dibandingkan dengan mengkategorikan waktu. Yaitu adalah bagaimana diri kalian menikmati waktu yang kalian lewati. Nah, ini adalah hal yang cukup rumit untuk gue. Karena kenikmatan waktu yang kita lewati bukan hanya berdasarkan kesepakatan pihak kita dengan waktu, tetapi juga dengan pihak ketiga, yaitu orang-orang disekitar dan juga lingkungan. Pihak ketiga ini memiliki andil besar, karena mereka terdiri dari dua unsur yang membentuk suatu sistem yang mempengaruhi satu sama lain sehingga jadi satu kesatuan. Agak ribet ya ? yaudah jangan dipaksain, kasian otaknya nanti jadi lebih murah dikit lagi, udah bagus mahal kaya gitu otaknya, biar kaya otak gue, masih bersih, rapih dan jarang digunakan. Kondisi mulus, minus neuron, minat ? email gue. *lahh

Gue masih belajar untuk menikmati setiap waktu yang gue lewati dan berdamai dengan setiap hal yang tidak gue sukai yang ikut masuk dalam konsumsi waktu gue. Biar nantinya segala hal yang pernah gue alami akan lebih sedikit tersesali dan lebih banyak untuk dihargai. Yakali mandi di kali, nanti malah dikira gila lagi, yaudahlah namanya juga laki-laki pasti sukanya bukan yang manis kaya gulali, tapi yang lebih manis kaya kamu (?). PATRICK !!

Waktu emang tidak pernah bisa diulang, tapi waktu bisa terus berulang selama kalian hidup. Nikmatin setiap waktu yang kalian lewati, buat kesepakatan dengan satuan ini !

SO, THAT’S ALL FOR NOW MY SHAWTIE GHOSTIE
DON’T FORGET TO BREATH AND BLINK.
ENJOY YOUR TIME !