Monday, 20 April 2015

Komitmen, komit men ?

Wussshhh….wusssshh…. wusssh…
Ni hao !!!
Wassup ghost reader ?! sampe detik ini kalian masih gaib, mungkin gua harus buat polyjuice mirip lee min ho/Kim soo eun dulu biar kalian pada menampakan diri.
Ngomong-ngomong kali ini gua mau bahas tentang komitmen, makin bertambah umur level komitmen seseorang akan semakin mudah diukur. Dan gua tipe orang berkomitmen penuh, gua komitmen untuk selalu makan dari mulut dan ngorek idung pake telunjuk, dan komitmen itu udah gua pegang selama 18 tahun. KOMITMEN !

K-O-M-I-T-M-E-N
Itulah kata yang sekarang ini paling sering gua denger, dan ditanyakan orang-orang, dikit-dikit nanyanya “lo komitmen ga ?”. Pergi mau futsal ditanya “lo komitmen ga ?”, lagi bikin acara ditanya “lo komitmen ga ?”, lama-lama kalo ada temen gua yang ngeluh mau mati bakal gua tanya “lo komitmen ga ?”.

Emang sih komitmen itu penting dalam setiap bidang, kaya misalkan ada orang yang berkomitmen penuh untuk males ngelakuin segala hal. Hampir semua dari lo pasti pernah ditanya pertanyaan kaya gitu, dan mungkin karena lingkungan ini gua jadi suka nanya gitu juga ke temen-temen gua. Setelah gua berpikir dan meneliti serta menelaah dengan logika setara bintang laut, gua punya filosofi “solid tidak akan terbentuk tanpa dilandasi suatu komitmen yang dipegang setiap individu”, ternyata untuk menjadi solid butuh komitmen. Kalo ada yang ngomong “ga solid” itu sebenarnya bukanlah kita tidak punya solidaritas atau terbentuk solidaritas, akan tetapi karena tidak adanya komitmen untuk melahirkan suatu sifat yang solid.

Di masa kuliah inilah sebenarnya suatu komitmen seseorang akan mudah terlihat, gua adalah orang yang hanya mau berkomitmen pada sesuatu yang gua rasa gua bakal “all-in”. Karena gua ngga mau bilang gua komitmen tapi sebenarnya gua cuman mencoba asal-asalan. #ussseet

Kuliah ini gua udah mencoba lumayan banyak hal, tapi jeleknya ngga bersifat kontinyu, karena kebanyakan gua langsung bosen. Hmm… susah emang jadi orang keren. Coba kalian liat, dibalik suatu komitmen yang kuat pasti ada karakter, kalian tau tokoh villain di film Harry Potter si Volde… you-know-who kan ? coba liat idungnya yang pesek, mungkin itu alasan kenapa dia suka dihubungkan sama ular yang pada umumnya jahat atau cilik..eh licik. Komitmennya yang pesek membuat dia dihubungkan sama ular, bayangin kalo idungnya standing ke atas kaya babi !? pasti dia dihubunginnya sama cuk patkai.

Komitmen itu pun juga ngga bisa dipaksakan, karena komitmen itu akan muncul sendirinya ketika individu udah deal sama segala konsekuensi yang bakal dia hadapi, gila aja ada orang yang suka menuntut komitmen orang. Kaya dalam suatu hubungan, coba lo rasain antara lo dan pasangan lo (itu juga kalo punya, kalo ngga punya mungkin bisa mencoba di substitusikan ke benda mati, kaya misalkan ke guling atau kaos kaki), ciri-ciri ngga ada komitmen adalah saling mengedepankan ego, ngga ada sifat saling mengalah dan terjadilah perang antar pasangan. Komitmen itu juga berarti kita udah siap sama semua kemungkinan buruk yang kita dapatkan, dan akan terus menggelutinya walaupun sampe menara eiffel beralih fungsi jadi sutet. Kalau kalian masih takut, berarti belom punya komitmen untuk ngejalaninnya . . . gampang kan ?

Jadi, buat yang masih suka nanya komitmen, coba pelajarin apa arti dan fungsi dari komitmen itu sendiri, jangan-jangan yang nanyain tentang komitmen orang malah ngga punya komitmen ?

Komitmen itu penting buat masa depan, karakter, masa sekarang. Tanpa komitmen ngga bakal ada sistem yang berjalan, wat a cool quotes ! cool blog ! #oooorrrrrreeeeeoo

Oke, sudah cukup panjang komitmen yang gua bahas…
Pertanyaannya, berapa banyak kata komitmen yang gua ketik di line ini ?
Bagi yang bisa jawab ada hadiah “selamat” yang menanti.
Cheers for y’all my ghost readaaaaahh !
Remember, do not forget to breath and blink !

Friday, 10 April 2015

Mozaik Jigsaw

Yoo…. wassup !!
Warning ! ! ! reading this blog would make your IQ higher than starfish, and every story I writted is
so freakin real, if there is a story have a similiarity with your life……  hi five !
Remember ! don’t forget to breathing and blinking !

Setelah kurang lebih 2 tahun blog ini udah bersemayam di dunia internet, akhirnya nyentuh lebih dari 1200  visitors  !!. Walaupun gua ngga yakin, semua yang dateng ke blog gua buat beneran baca atau cuman kena insiden ke “visit”. Lucunya pas kira-kira bulan oktober 2014 kemaren gua pasang flag counter ternyata ada visitor dari Kolombia sama Brazil, gua yakin mereka yang kena insiden ke “visit”. Sebenernya maunya sih posting seminggu sekali, kaya mandiin anjing. Tapi kadang bener-bener ngga sempet buat posting  dalam 1 minggu atau bahkan 2 minggu. Minimal sebulan 2 kali lah posting, walaupun posting gua kebanyakan yang useless...less…less.

Oke kalau begitu di postingan gua kali ini gua pengen cerita tentang pengalaman yang  pastinya semua anak 18 tahun ngalamin, yaitu ketika lo bimbang menentukan pilihan. Menurut gua menentukan pilihan adalah salah satu masalah siaga 1, yang buat lo kena permainan otak. Tapi diatas itu semua cewe lebih jago bikin permainan otak buat cowo, mereka bisa bikin kita yang penuh otot ini jadi kaya orang idiot.

Pilihan…Pilihan…Pilihan.
Waktu itu ketika gua merebahkan badan di tempat tidur pada siang hari, tiba-tiba tukang susu murni nasional lewat dan dia mengingatkan gua ketika waktu kecil. Waktu gua umur 4 tahun hampir setiap hari gua beli susu murni nasional rasa coklat. Dan gua inget cita-cita gua waktu kecil pas ditanya sama Bokap “nanti kalau kamu udah besar, mau jadi apa?”, gua yang waktu kecil suaranya masih cempreng menjawab dengan penuh semangat innocent “mau jadi proffesor, biar bisa nyiptain banyak barang baru”. Di siang itu pun gua berpikir, betapa polos dan sederhananya pemikiran anak-anak karena setelah gua besar sekarang, ternyata proffesor itu ada di banyak bidang. Gua kira proffesor adalah sebutan untuk orang yang nyiptain objek baru yang punya kekuatan super. Gua terinspirasi jadi proffesor ketika gua menonton film kartun powerpuff girls ( gua nonton ini karena dua kakak gua cewe, bukan karena…sudahlah ), disitu proffesor menciptakan anak kecil super bermata besar yang punya kekuatan macam-macam. Dan itu membuat gua berpikir “wah, proffesor itu orang hebat yang bisa nyiptain alat dan manusia super”.

****
Suasana siang hari yang terik ditambah angin sepoi-sepoi membuat gua mengantuk, dan lamunan flashback masa kanak-kanak terus tersiar, seakan gua menonton film dokumenter. Gua pun mulai memejamkan mata dan terus berpikir, sungguh bahagianya ketika masih kecil, karena di massa itu gua ngga kenal sama yang namanya lelah ataupun mengeluh, semakin bertambah umur malah membuat gua semakin sadar kalau ternyata hidup itu emang ngga semanis martabak bangka. Dalam lamunan itu gua terbesit pengalaman konyol yang ngebuat 1 RT heboh dan berkumpul dirumah gua.

Ketika itu gua ingat betul. sore hari jam 16.30. Waktu itu gua masih berumur 4 tahun dan kepala gua masih ngga sinkron sama badan gua yang cungkring, waktu itu kakak gua pernah manggil gua tengkorak hidup… dan ini bukan suatu kebanggaan. Balik ke cerita, karena gua bosen gua pun keluar rumah, baru aja buka pager kebetulan banget gua ketemu temen gua yang waktu itu baru beli bola blitter, dia berjalan sambil memantul-mantulkan bolanya dan ditambah ekspresi ceria Tsubasa di wajahnya. Dia yang melihat gua baru keluar pager langsung memanggil gua dan berkata “Jor, gua baru beli bola nih, bolanya mirip kaya di film kartun tsubasa, bentuknya bulet”. Gua yang mendengar itu langsung tergiur buat nendang muka temen gua… eh, maksudnya nendang bola. Temen gua yang satu ini namanya Alexander dan gua biasa manggil dia Alek, dulu dia juga suka dipanggil alek belek, karena biasanya setiap disamper pagi-pagi matanya selalu ramai akan belek. Dia emang suka melakukan hal-hal yang ngga terprediksi dan diluar nalar manusia normal, gua udah temenan sama dia lebih dari 14 tahun.

Mendengar perkataannya sambil dia terus memantulkan bola, membuat perut gua mules dan pengen langsung cabut buat main bola. Gua pun ngga bisa nolak kemauan ini, gua langsung menjawab pertanyaannya “wih bola baru, ayo lek langsung main kelapangan”. Kami berdua pun langsung berlari dengan ceria kelapangan sambil menggiring dan mengoper bola silih berganti di jalan perumahan, seakan-akan gua mendengar theme song film Tsubasa saat kita berdua saling mengoper dan menggiring bola. Tapi gua lupa satu hal di sore itu… GUA BELOM IZIN SAMA ORTU.

Gua pun langsung aja asik bermain bola di sore itu bareng temen-temen gua yang lain, ketika gua lagi asik menggiring bola tiba-tiba gua liat ada 2 kakak gua dan bukan cuman kakak gua, tapi ada banyak orang juga dibelakangnya, mirip kaya scene film gangster. Gua yang ngeliat itu langsung diam dan hembusan angin dilapangan kala itu membuat perasaan gua menjadi cemas. Temen gua yang ngeliat gua diam, langsung berteriak “Woy jor !! oper bolanya, kosong ini !”. Kakak gua pun semakin mendekat bersama kerumunannya, karena keadaan yang aneh itu, semua orang dilapangan juga ikut diam dan mulai melihat ke arah kakak gua… dan ternyata perasan cemas itu memanglah suatu pertanda buruk. Kakak gua langsung memanggil dengan nada naik 1 oktaf yang melengking “JORDIII SINI KAMU ! KAMU DICARIIN MAMA TAU ! AYO PULANG SEKARANG”. Gua seakan mendengar banyak burung gagak beterbangan diatas kepala gua, seakan siap untuk memangsa anak kurus berkepala besar ini.

Gua pun langsung ikut berjalan untuk pulang bareng kakak gua, ditambah ada banyak anak-anak lain yang mengikuti dibelakang kakak gua. Sepanjang perjalanan kerumah, kedua kakak gua terus berceramah ke gua, dan gua udah ngga ngerti sama setiap kata yang mereka katakan, karena gua merasa seperti maling dot yang diarak keliling kampung, dan tak jarang di perjalanan pulang ada yang ngeliat gerombolan arakan ini bingung. Ketika gua menoleh kebelakang, ternyata temen-temen gua yang dari lapangan juga ada dibelakang kedua kakak gua, dan arakan ini pun semakin ramai dan gua semakin malu.

Ketika gua udah mau sampai rumah, gua bertambah bingung dan bergumam dalam hati “kenapa depan rumah rame banget ?”. Pas gua depan pager ada omnya temen gua yang bilang “wah, ini si Jordi udah ketemu”. Pas gua buka pager eh ternyata disana ada mama gua yang lagi dikerumunin ibu-ibu tetangga karena nangis dan mereka semua mencoba menenangkan mama gua. Gua semakin bingung tentang apa yang terjadi sebenarnya, gua langsung memanggil polos ke mama gua “Ma, aku pulang ma, mama kenapa?”, mama gua langsung berjalan cepat ke arah gua dan langsung memeluk gua, mirip adegan anak yang terpisah dari ibunya selama belasan tahun dan dipertemukan kembali. Ibu-ibu yang mencoba menenangkan mama gua kira-kira ada 3 orang, dan semua ibu-ibu itu adalah nyokap temen gua. Ternyata mama gua mikir kalau gua diculik dan organ gua udah pada diambilin. Ngeri banget kan. Setelah dari situ gua pun berjajnji kalau mau pergi harus laporan dulu.

****

Masa kecil itu emang masa mozaik yang jadi jigsaw di kehidupan gua. Tapi hari-hari gua sekarang ini masih banyak pengalaman yang absurd yang sering terjadi, kaya misalkan gua bareng temen gua sering mengalami pengalaman aneh pas lagi cari makan. Mulai dari makan masakan padang yang ayamnya kaya kena penyakit anorexia, kurus banget. Beli bubur, eh buburnya masih berbentuk bulir nasi, walaupun lebih mirip bulir nasi imbibisi yang gendut. Dan yang lebih lucu lagi pernah makan di rumah makan yang harga makanannya ditembak sesuai dengan uang yang lo pegang pas jalan ke kasirnya, dan itu ga masuk akal.

Hidup emang bisa diperhitungkan, tapi susah untuk diprediksi. Pengalaman hanya akan menjadi bagian cerita di masa lampau untuk dijadikan pedoman di masa yang akan datang. Yosssssh!

Saturday, 28 March 2015

Kaki Kecil

Cheers….sssssssssssssshhh, Wassup ghost reader ! ngga bosen cuman jadi pembaca hantu doang ?
Kali ini gua bakal menceritakan tentang masa kecil, masa yang penuh alunan melodi harpa menawan nan indah. Masa dimana kita tidak berani untuk “melawan” orang tua, masa dimana kita sungguh polos dan bersih, masa dimana kita masih tulus untuk mencintai seseorang tanpa memerlukan alasan. *Yes I’m feeling so cool now*

Tanpa terasa waktu sangat cepat berlalu, seperti saat kita melontarkan kata-kata dari mulut. Sungguh cepat dan tak bisa ditarik kembali, walau terkadang kata-kata itu seakan menjadi bumerang yang akan kembali kepada kita, jika kita tidak bisa menangkapnya maka kata-kata itu sendiri yang akan menyerang kita. Akhir –akhir ini gua lebih banyak merenung tentang mengapa seorang balita yang tadinya sungguh bersih dan polos bisa berubah menjadi watak yang berbanding terbalik. Padahal pada awalnya semua orang terlahir tanpa dosa, tapi kenapa ada yang tumbuh menjadi orang yang penuh dengan rasa duniawi yang berujung pada kejahatan tanpa melupakan rasa bersalah ?

Sebenarnya itu juga yang gua rasain sama diri gua sendiri, gua mengingat ketika gua masih kecil, dimana gua selalu nurut sama orang tua dan selalu merasa takut untuk bertingkah curang sekecil apapun itu. Tapi seiring berjalannya waktu gua bingung, kenapa gua baru sadar ternyata gua udah berubah. Memang benar bahwa dunia ini sungguh kejam, karena domba yang penurut pun akan berubah menjadi serigala bengis di dunia ini. Saling mempercayai satu sama lain seakan semakin menghilang seiring berjalannya waktu. Dulu gua pernah memasuki fase dimana gua ngga percaya sama orang banyak dan hanya bermain sama beberapa orang yang bisa gua percaya.

Dan perenungan itu membawa gua kembali ke masa lalu, tepatnya waktu kelas 1 SD itu bisa disebut masa-masa badungnya gua, gua sering banget ngga ngerjain PR, ngambil jajanan dan mainan temen sekolah, suka gangguin orang yang lagi main, dan bahkan pernah yang namanya ngumpulin temen buat mukulin orang cuman karena kepala gua benjol gara-gara kedorong sama orang yang lagi main pesawat kertas. Bisa dibilang waktu gua kelas 1 SD temen gua sedikit, karena gua lebih suka main bergerombol, tapi karena tingkah gua yang kaya gitu gua juga pernah dibenci sama banyak orang, banyak musuh. (Astaga, betapa pemurungnya anak ini)

Waktu kelas 1 SD pernah ngerasain yang namanya di setrap depan kelas ditambah coretan “P” di pipi kanan dan “R” di pipi kiri karena ngga ngerjain PR. Gua juga pernah mukul temen sebangku cuman gara-gara dia ngga kasih pinjem komik lipat dari kertas hadiah mie kremezz yang gambarnya boboho mirip alien, karena digambar kemasan itu ukuran kepala boboho terlalu besar dan ngga singkron sama badannya yang kecil. Dan puncaknya ketika gua mengambil rapot ketika itu ngambil rapotnya pagi hari kira-kira jam 8, nilainya sih cuman nilai standar tapi wali kelas gua ngelaporin semua tingkah buruk gua dikelas. Disitu gua sedikit merasa takut, karena waktu itu Bapak gua yang ngambilin rapot. Waktu SD selalu Bapak gua lah yang ngambil rapot, karena gua satu sekolah bareng kakak gua jadi sekalian aja bapak gua yang selalu ngambilin rapot kita berdua. Tapi gua dan kakak gua harus selalu ikut saat pengambilan rapot. Gua dulu pernah nanya “Pak, kenapa aku harus ikut ngambil rapot ? temen-temen aku banyak yang diambilin rapotnya tanpa mereka ngga ikut”. Bapak gua menjawab dengan  sura pelan “Itu ngga benar, kan yang mau diambil rapotmu, hasil laporan kamu selama belajar di sekolah, Bukan Bapak. Kecuali kalau Bapak yang sekolah, baru kamu ngga usah ikut”. Gua pun langsung terdiam sama jawaban itu.

Dari mimik wajah Bapak gua saat itu, gua yakin kalau dia kecewa sama laporan tingkah anaknya dari wali kelas gua. Setelah selesai mengambil rapot gua dan kakak gua tibalah waktunya untuk pulang, sungguh perubahan suasana yang drastis dibanding saat mengambil rapot kakak gua Ka Sonya. Sebelum ngambil rapot gua, Bapak gua mengambil rapot kakak gua terlebih dahulu. Disitu suasana masih damai, karena kebetulan nilai kakak gua cukup memuaskan, tapi Bapak gua bukanlah tipe orang yang langsung mengelu-elukan kebanggaanya di depan anaknya itu sendiri, dia cuman senyum dan bilang “ditingkatkan lagi belajarnya, semester depan harus lebih bagus lagi. Mau makan apa?”. Kalau Bapak gua cuman ngomong gitu tanpa ada ceramah sedikitpun itu artinya dia cukup puas, dan ngga lupa dia bakal menggosokan telapak tangannya yang gagah dikepala anaknya sambil menatap anaknya dengan penuh arti.

Selama perjalanan pulang, Bapak gua ngga ngomong apa-apa, baik ke gua maupun ke kakak gua. Setibanya dirumah gua langsung ganti baju, dan Bapak gua langsung duduk dikursi dan kembali mengambil rapot gua untuk dilihat kembali. Ketika gua selesai mengganti baju, gua mendengar Bapak gua memanggil nama gua, dan itu berarti bukan hal yang baik. Setelah gua berjalan untuk menghampiri Bapak gua, Dia berkata “duduk kamu”. Disitu jantung gua berdegup cepat, seakan aorta dan vena memompa darah 2 kali lebih cepat. Bapak gua pun mulai berkata “Kenapa kamu bisa kaya gitu ? Banyaklah belajar kalau gitu, ngga usah banyak main dulu. Makan sana ini udah siang”. Sungguh singkat, padahal selama gua duduk gua ngga berani liat muka Bapak gua sendiri, tetapi ketika dia selesai berbicara, gua langsung kaget ketika menatap matanya, karena dari matanya seakan gua melihat dia kecewa sama gua.Wow, gua  yang masih kelas 1 SD disaat itu baru pertama kali melihat Bapak gua menatap begitu. Ternyata rasa kecewa orang tua terasa lebih menakutkan daripada amarahnya itu sendiri.

Hari itu sungguhlah sepi, biasanya setiap sore Bapak gua selalu mengajarkan jurus berantem dan pitingan baru (jurus mengunci lawan, gua ngga tau kenapa bapak gua bilang itu jurus pitingan). Namun, sore itu Bapak gua cuman duduk doang sambil nonton tv , dan bisa dibilang hari itu menjadi titik balik gua. Hari dimana gua langsung bersumpah sama diri sendiri untuk menjadi anak yang baik dan ngga akan badung di sekolah lagi. 
***
Memori itu seakan muncul kembali akhir-akhir ini, bertumbuhnya umur membuat sifat gua berubah untuk menjadi lebih cuek, dan jadi pribadi apatis. Gua mau menjadi anak kecil yang masih penuh rasa bersalah ketika melakukan hal diluar jalur sebenarnya, gua mau punya rasa bersalah yang besar itu kembali ketika gua gagal untuk membuat senyuman tersungging di muka orang tua gua. Gua merasa kehidupan di dunia ini telah mengikis rasa bersalah itu. Dimasa kuliah gua ini, gua merasa gagal untuk menyunggingkan senyuman itu, rasa itu seakan kembali lagi untuk menyadarkan sifat keapatisan gua. Dan membuat gua flashback kemasa kecil gua.

Kaki ini yang dulunya sangat kecil dan tidak berani jauh melangkah, sekarang telah bertumbuh menjadi kaki yang besar dan bahkan terlalu berani untuk melangkah dari jalur seharusnya. Bapak gua pernah bilang ada dua kunci untuk bisa bertahan hidup di dunia ini, yaitu jangan sombong dan jangan boros. Mungkin 12 bulan belakangan gua telah melupakan salah satu kunci untuk tidak sombong. Gua terlalu banyak menganggap beberapa faktor penting  menjadi hal sepele, dan ternyata hal sepele itu jadi bom waktu buat gua sendiri. Sekarang memori masa kecil itu seakan mau mengingatkan gua untuk terus menjadi anak kecil yang mempunya rasa bersalah ketika target tidak tercapai. Dan sekarang gua seakan merasa berterima kasih sama memori masa kecil gua yang kembali datang kepikiran gua menyadarkan gua sebelum gua melangkah terlalu jauh.

Ini mirip kaya gua seakan menemukan tujuan baru yang harus dicapai, dan bertaruh untuk tidak mengulangi rasa bersalah karena tujuan itu ngga tercapai. Mungkin gua dimasa kecil dateng melalui ruang 4 dimensi mirip film interstellar untuk menyadarkan gua, sebelum terlambat. Hmmm, jadi apa lagi yang akan terjadi nanti ? sekarang yang hanya gua butuhkan adalah untuk terus melangkah dengan kaki ini tanpa lupa apa yang “kaki kecil” telah ajarkan kepada gua. Regards^^


Friday, 20 March 2015

Niat Koh Alung

Yo.. wassup.. yow… yolo.. molo..bolo-bolo.
Kali ini ada beberapa pengalaman yang dimana pengalaman itu kembali memberikan gua pelajaran. Take a seat, drink your milk and absolutely don’t forget to breath. YASS !!

Tanggal 22 februari 2014, menjadi salah satu hari sibuk di rumah gua dalam kurun waktu setahun ini, dan itu harinya arisan. Gatau kenapa setiap ada acara apapun yang dilakuin dirumah, nyokap gua pasti bakal sibuk dan bahkan menularkan kesibukannya dengan orang yang memiliki radius terdekat dengannya. Emang sih ini ada sisi bagusnya, berarti nyokap orangnya totalitas. Tapi terkadang suka terlalu . . . . begitulah.

Hari ini cuman gua yang bantuin nyokap mempersiapkan kesakralan arisan, disitu gua banyak melakukan olahraga kardio angkat beban ( baca : angkat kursi, meja, dan saudaranya). Setelah gua olahraga itu, gua diminta nyokap buat ngambil bakmi pesenan ditempat langganan, nama toko bakminya bakmi Alung. Bakmi ini cuman berjarak 450 meter dari rumah gua, rasa bakminya itu enak banget dan gua yang tadinya ngga suka makan bakmi sekarang jadi suka makan bakmi,  semenjak koh alung menyerang perut gua dengan bakminya. Ciri khas dari setiap pembuatan semangkok bakmi disini adalah selalu diiringi bersin yang syahdu. Entah apakah itu adalah kebiasaan atau ritual rahasianya, tapi kata nyokap gua gini : “Bersinnya itu yang buat bakminya jadi enak, kalo ngga bersin bakmi yang dibuat ngga enak”. Gua ngga tau pola pikir nyokap kaya gimana sampe bisa mikir gitu.

Waktu itu tepat pukul 8 malam gua disuruh ngambil bakmi pesenan itu, setelah gua berjalan dan sampai di “kuil bakmi alung” gua langsung aja masuk dan menanyakan pesenan nyokap, tenyata bakminya belom dibikin, mau ngga mau gua harus nontoni proses bersin di pembuatan bakmi ini (lagi). Gua langsung aja duduk di kursi yang bentuknya persegi panjang khas tempat makanan di Indonesia. Ternyata saat itu kokoh bakmi ini lagi dapet klien yang nanyain cara berdagang bakmi yang baik dan benar sesuai undang-undang perbakmian. Kebetulan banget kalo gitu ! Kapan lagi gua dapet tips berdagang ala Tiongkok.

Klien koh Alung ini  adalah seorang Ibu paruh baya, dia dateng kesini bersama anaknya yang mukanya mirip sama ibunya, makanya gua berasumsi kalo cewe belia itu adalah anaknya. Anaknya cantik, rambutnya lurus dan panjangnya sebahu, kulitnya putih, senyumnya bercahaya seakan memancing burung-burung bernyanyi, badannya kurus, pokoknya mirip kaya bihun dikasih rambut yang bisa senyum. Kalo soal penggambaran Ibunya silahkan kalian tafsir sendiri.

Koh Alung melayani kliennya sambil bikin bakmi pesenan nyokap. Dan bukan tempat “chinese food” namanya kalo mereka ngga teriak-teriak  dengan aksen tiongkoknya ketika berbicara. Otomatis gua jadi tau semua keluhan si Ibu beranak cakep ini kepada Koh Alung. Dari yang gua liat dari Ibu ini, gua rasa semangat dagangnya lagi berapi-api bak orang lagi kebelet boker. Ketika gua mengalihkan pandangan ke koh Alung, ternyata si kokoh udah mulai memasak mie, dan si Ibu itu mulai bertanya “Koh, dulu awalnya gimana bisa laku gini dagangannya ?”. Koh Alung yang lagi mengaduk bakmi di panci menyunggingkan senyum lalu mulai bercerita tentang pengalamannya dalam merintis usaha bakminya yang sudah menkelurahan (karena bakminya belum mendunia).

Koh Alung berkata dengan aksen cadel tiongkoknya yang khas “Yaaaaa, sebelumnya lu olang kalau bedagang, halus cali dagangan yang bisa ngebuat kita mau all out dan selalu senang dalam menjalankannya”. Mendengar perkataan koh Alung malah gua yang jadi ngangguk-ngangguk. Ngga berhenti disitu, dia juga ceritain tentang pertama kalinya dia ngenalin bakminya. Kembali dia berbicara dengan aksennya “aaaaaa… kalo kita mau dagang, kita olang juga halus mau nyampelin pelanggan dali tempat ke tempat lain”. Ia bergumam sambil ngangkat bakmi yang sudah matang dari panci pake saringan yang biasa dipake tukang mie ayam dan langsung meletakannya di kertas makan buat dibungkus. Sementara proses evakuasi bakmi dari panci ke kertas makan berlangsung, air bibir dan lidah gua saling berpagutan dengan binal.

Ketika gua memalingkan pandangan dari bakmi gua melihat ke arah ibu beranak bihun itu, nampak muka ibu ini seakan mendapatkan wangsit cerah, karena gua melihat seakan ada bakmi beruap-uap di matanya. Tapi ternyata uap itu seolah semakin mendekat ke arah gua, dan tiba-tiba si kokoh bakmi membuyarkan lamunan imajinatif gua sambil berkata “aaaaa…. Ini, bakminya 10 bungkus udah selesai. Maaf ya bikin nunggu”, gua pun menjawab  “iya, gapapa koh”. Ternyata uap yang mendekat ke arah gua itu berasal dari kantongan bakmi yang sudah selesai dibungkus.

Gua pun langsung bergegas membayar dan mengambil plastik bakmi itu dan langsung berjalan pulang. Sepanjang perjalanan pulang gua cuman merenung sama kata-katanya koh Alung. Seandainya aja dia jualan elektronik mungkin ngga akan sesukses ini, dan mungkin filosofi bakmi bersinnya ngga akan ditemuin. Gila ngga ?!, berawal dari jualan bakmi 5 porsi, sekarang udah berkali-kali lipat penjualannya ! malahan dia udah bikin layanan delivery.
                                                                                                 
***

Dari kokoh ini gua dapet pelajaran baru, bahwa ternyata semua orang bisa sukses di bidang apapun yang dia gelutin selama itu dilakukan dengan sepenuh hati, jiwa, raga, dan pikiran. Karena seiring dengan totalitas yang kita berikan, suatu saat pasti akan “menghasilkan”. Dan dari semua perkataan yang udah Koh alung bilang gua dapat menarik kesimpulan kalau semua orang punya sisi cerdasnya masing-masing, sekarang tinggal bagaimana kita nemuin sisi cerdas itu (biasanya sisi cerdas selalu berdampingan sama sisi idiot, hati-hati !). Ngga cukup cuman nemuin sisi itu doang, setelah ketemu kita harus bisa maksimalin yang kita punya.

Buat kalian yang masih merasa ngga punya keahlian, ayo gali terus sampe dapet, gua juga masih dalam tahap penggalian. Inget… semua orang punya sisi “cerdas” masing-masing, cari kegiatan yang bisa ngebuat  lo seneng ngelakuinnya, walaupun itu akan menyita banyak tenaga, pikiran dan waktu lo atau bahkan terkadang membutuhkan biaya yang ngga sedikit. Tapi satu yang harus lo tau, shopping itu bukan bakat atau keahlian, walapun kegiatan itu mencakup semua yang gua bilang.

“Don’t think you’re useless, when you hopeless”.
 Regards from me to all my ghost reader.. ptok…ptok…ptok…

Thursday, 12 March 2015

Realita Abstrak

Guten Tag !
Wassup my freakin ghost reader !
Have you think you are not exist in this world or you’re just live in imagination space ?
Sekedar doang nih, belakangan ini intensitas gua buat dengerin lagu fast beat lagi meningkat pesat kaya harga martabak deket rumah yang selalu meningkat. ;’(

Kaya di postingan sebelumnya gua pernah bilang kalau ekspektasi emang ngga sesuai realita, dan itu emang udah sering terjadi. Ekspektasi dan realita selalu hidup berdampingan kaya x dan y dalam formula matematika. Realita itu adalah artis yang punya chocochips di pipinya, Realita S. Temat. *Hiraukan*

Terkadang realita itu terlalu pahit buat nyaingin empedu sekalipun. Kaya misalkan waktu gua lagi naik bis pas perjalanan pulang ke kota tercinta nun jauh di ufuk timur pada siang hari. Gua sengaja ngga makan karena gua mikir, “ah, paling ntar di kebon jeruk ada tukang roti 2 ribuan, nanti ajalah makan roti itu aja”. Sepanjang perjalanan ke kebon jeruk, gua coba buat tidur buat ngelupain rasa laper gua. Entah kenapa adegan ini sama kaya di film sedih yang adeganya tentang seorang anak jalanan yang lusuh dan kelaparan namun tak ada makanan untuk dimakan. Tapi bedanya anak ini ada di bus dan dia tetap lusuh.

Ketika perut gua udah semakin seronok buat di isi makanan dan udah mulai terdengar rauman zombie, gua cuman bisa menatap penuh nanar ke kaca sambil berkata “Bertahanlah nak, engkau akan segera makan”. Akhirnya sampai juga di kebon jeruk, perut gua pun semakin excited buat diisi roti 2 ribuan. Satu persatu tukang berdatangan dan saling berteriak tentang yel-yel dagangan mereka, dan pemenangnya tentu aja tukang tahu, tukang yang selalu ada dimanapun gua pergi selama naik bus. Ternyata tahu sumedang punya pamor lebih tinggi dari gua.

Satu persatu tukang makanan dan minuman terus berdatangan, akan tetapi tukang roti 2 ribuan tetap ngga muncul batang rotinya. Dan ketakukan terbesar gua pun muncul “TUKANG ROTINYA NGGA JUALAN”. Setelah bus beranjak dari kebon jeruk tukang roti tetep ngga muncul, sampai akhirnya pintu depan bus berbunyi dan terbuka, gua berharap dengan penuh gairah kalau pintu itu terbuka untuk tukang roti. Tapi ya begitulah realita… pahit. Yang ternyata naik adalah musisi jalanan. Setelah bus beranjak dari kebon jeruk. Gua ngga tau apakah langit yang mendung itu juga turut berduka karena tukang roti ngga berjualan dan perut gua gagal diisi.

Jadi sisa perjalanan gua diisi dengan pergulatan antara rasa lapar dan ingin makan sampah terdekat yang bisa dijangkau. Sementara itu gejala laper ini menyerang sistem kerja otak dan otot muka gua. Alis jadi berkerut dan tingkat keberingasan muka meningkat. Karena pengalaman ini gua jadi dapet pelajaran buat makan sebelum menempuh perjalanan panjang.

Semakin kesini gua berpikir, inilah kehidupan inilah realita dan ekspektasi bukanlah jaminan untuk jadi realita. Walau agak sedikit berlebihan tapi emang bener ternyata rasa laper bisa merubah sifat orang, bahkan kalau udah tingkat akut bisa membuat orang lupa siapa dia sebenarnya, dan maju ke tahap delusi. Karena menurut gua ada 3 yang dapat merubah sifat manusia. Yaitu harta, nilai ulangan atau IP, dan laper. Emang pelajaran itu ngga harus dateng dari guru di sekolah atau dosen di kampus, pelajaran juga bisa dateng dari hewan sekalipun. Kaya misalkan dari semut kita belajar untuk tetap bertegur sapa dan berbaris… serta ngambil makanan yang bukan miliknya.

Realita emang ngga sebagus ekspektasi dan begitu juga kebalikannya. Dari setiap pengalaman buruk yang udah kita alamin, nantinnya kita akan tetap berterimakasih sama semua itu, karena setiap pengalaman buruk akan selalu memberikan kita pelajaran yang baik. Kita ngga boleh terjebak sama ekspekstasi tinggi, 6 kata buat lo semua : stop to expect, start to act ! #lagibener #hashtagHasAHashtag #boomThatsJustHappen.